Oleh: Henry | April 14, 2008

Taman Kedamaian Indah Menawan

Taman Kedamaian Indah Menawan

Oleh : Gede Prama

Pada suatu waktu, ada tikus serakah yang menjumpai penyihir. Terganggu oleh ulah kucing, ia minta dirinya diubah jadi kucing. Baru sehari jadi kucing, ia sudah tidak puas, memohon kepada penyihir biar diubah jadi anjing karena terganggu oleh anjing.

Sehari kemudian karena dikejar serigala, ia minta berubah menjadi serigala. Satu hari berikutnya karena serigala ini dikejar harimau, ia minta disihir biar menjadi harimau. Ketika menjadi harimau, keserakahannya memuncak, ia mau memakan penyihir agar hidupnya tidak berubah-ubah lagi. Dan marahlah penyihir, dikembalikanlah tikus itu menjadi tikus kembali.
Kalau boleh jujur, nasib banyak manusia serupa tikus tadi. Keserakahan membuat hidup manusia berkejaran, berkejaran, dan berkejaran. Selalu mengira rumah ada di depan. Ketika sekolah dasar mengira sekolah menengah pertama enak. Tatkala sekolah menengah pertama menduga sekolah menengah atas yang indah. Di bangku kuliah mengkhayal dunia kerja yang menawan. Sesudah kerja dan banyak stres, berfantasi pensiunlah istirahat sebenarnya. Setelah pensiun kehilangan rasa hormat orang, penghasilan berkurang, sakit-sakitan.

Sehingga menimbulkan pertanyaan, di mana rumah kedamaian yang sesungguhnya? Setelah dikejar-kejar demikian banyak orang, dicari-cari melalui segudang materi, digali-gali melalui banyak buku suci, tetap saja manusia berkejaran, berkejaran, dan berkejaran.

“Doggy mind, lion mind”

Di negara-negara Barat umumnya, banyak orang menyukai memelihara anjing. Tidak saja menjadi penjaga, anjing juga menjadi sahabat. Permainan yang kerap dilakukan bersama anjing adalah melemparkan plastik dicat mirip tulang berisi daging. Ke mana pun daging palsu ini dilempar, ke sanalah anjing mengejarnya.

Serupa dengan anjing yang mengejar daging palsu, kehidupan sebagian manusia juga berlarian ke sana kemari mengejar kepalsuan. Uang bukan, jabatan bukan, rumah bukan, mobil bukan. Tiba-tiba sudah tua dan sakit-sakitan. Dalam meditasi, orang-orang seperti ini akan berputar-putar ke sana kemari dibawa pikirannya. Tambah keras ia berusaha, tambah keras putaran pikirannya. Ini yang disebut doggy mind.

Berbeda dengan anjing, singa secara mudah bisa membedakan daging palsu dengan daging asli. Tidak saja tidak lari ke sana kemari, tetapi dengan tenang ia menatap semuanya tanpa ketakutan. Itu sebabnya singa kerap digunakan simbol pencerahan karena diam tenang tidak menakuti apa-apa, termasuk tidak menakuti kematian.

Hal yang sama terjadi dengan orang-orang yang perjalanan latihannya sudah jauh. Para master badannya memang menua, tatkala putaran waktunya sakit ia pun sakit, bila saatnya tiba untuk meninggal ia juga meninggal. Bedanya yang mengagumkan, para master menjalani semuanya dengan ketenangan sempurna. Makanya banyak guru menegaskan, hasil latihan adalah boundless capacity to suffer. Kemampuan untuk menderita secara tidak terbatas. Ini yang kerap disebut lion mind.

Rumah yang sesungguhnya

Sharon Salzberg pernah mengumpulkan pengalaman-pengalam an guru meditasi yang perjalanan latihannya sudah jauh. Dari Joseph Goldstein, Jack Kornfield, Larry Rosenberg yang terkenal, Kamala Masters yang ibu rumah tangga biasa, Bhante Gunaratana yang sudah berpraktik lebih dari lima puluh tahun, sampai dengan Ajahn Sumedo yang guru. Dalam karya indah berjudul Voices of Insight, terlihat jelas bagaimana orang-orang berlatih itu hidupnya berbeda: tenang, damai, tenteram, bebas!

Ada yang ditarik oleh meditasi karena ingin berjumpa diri sesungguhnya, ada karena diempaskan kehidupan lewat godaan dan cobaan, ada juga bermeditasi karena mendalami kehidupan suci. Namun, apa pun latar belakangnya, tetap diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk senantiasa berlatih, berlatih, dan berlatih. Bedanya dengan orang kebanyakan yang dibuat amat sibuk oleh seluruh keriuhan kehidupan luar (dengarkan radio, nonton televisi, berdebat), penekun-penekun meditasi memusatkan seluruh perhatiannya pada semesta di dalam diri.

Perhatikan hasil perenungan dalam dan mengagumkan mistikus sufi abad tiga belas bernama Jelaludin Rumi dalam salah satu mahakaryanya berjudul The Guest House. Hidup ini serupa dengan rumah penginapan. Setiap hari ada saja yang datang silih berganti. Kebahagiaan, kesedihan, pujian, cacian. Belajarlah tersenyum ramah pada semuanya, bahkan pada petaka, bencana, kematian sekali pun, sebab semuanya menghadirkan bimbingan- bimbingan sekaligus tuntunan- tuntunan. Semuanya menggoreskan makna.

Tidak terbayang indah dan bebasnya kehidupan ala Jelaludin Rumi. Sekaligus memberikan bayangan, inilah rumah kedamaian yang sesungguhnya, rumah untuk semua. Bagi manusia kebanyakan, senyuman baru hadir ketika tamu kehidupan adalah kebahagiaan, pujian. Dan penolakan, kemarahan, bahkan penghakiman mudah sekali muncul tatkala tamunya adalah kesedihan, rasa sakit, makian.

Itu sebabnya praktisi-praktisi meditasi yang sudah berjalan teramat jauh, berfokus hanya pada satu hal: the unbroken continuity of mindfulness. Apa pun yang terjadi, semuanya dilihat dengan penuh kesadaran. Sebagaimana Rumi, punya uang senyum, punya utang senyum, dibilang baik senyum, disebut munafik senyum.

Seorang cucu bertanya kepada neneknya ketika kesedihan membuat keyakinannya akan Tuhan jadi mengendur. Dengan lembut nenek penyabar sekaligus bijaksana ini bertanya: di buku suci mana ditulis kalau Tuhan hanya hadir dalam kebahagiaan? Dalam khotbah Buddha yang mana disebutkan kalau penderitaan hanyalah sampah yang layak dibuang?

Cerita nenek ini serupa dengan pengalaman mistikus sufi Hazrat Hinayat Khan. Suatu hari Khan menjumpai Kekasih Yang Maha Mencintai. Dengan bersujud pencinta ini berbisik, “Engkau yang mengirim musibah buat orang jahat, Engkau juga yang memberi berkah pada orang baik.” Dalam senyum lembut dikulum Kekasih ini menjawab, “Bukan, sekali lagi bukan, orang jahat mengundang musibahnya sendiri, orang baik menarik berkahnya sendiri.”

Belajar dari respons indah Kekasih yang pernah dijumpai Khan, rumah kedamaian sesungguhnya adalah tempat di mana semuanya diterima dengan senyuman. Semuanya sudah ada hukumnya, sesederhana menyentuh air kemudian basah, menyentuh api kemudian terbakar. Tatkala semuanya bermandikan senyuman, kesadaran kemudian membimbing manusia menjumpai taman kedamaian indah menawan. Bukannya serba membahagiakan, tetapi serba senyuman.

Di taman kedamaian ini, setiap pagi manusia bergumam tenang, ada 24 jam yang segar menunggu untuk diisi dengan senyuman karena senyuman membantu kita memasuki hari dengan kelembutan, dengan pengertian.

Gede Prama Bekerja di Jakarta, Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

Kompas, Sabtu, 5 April 2008


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: