Oleh: Henry | April 14, 2008

MENYELAM KE DASAR BATIN 7 – Master Cheng Yen

Penderitaan sebagai Ajang Latihan

Bila berada di tengah-tengah gossip dan lingkungan yang buruk, pertahankanlah batinmu agar tetap dapat mengerti dan memaafkan.

Tidak ada yang mudah di dunia ini. Lagi pula, tidak ada gunanya menjadi martir di lingkungan yang baik.

Dalam agama Buddha, lingkungan yang buruk dianggap sebagai “ajang latihan tambahan.” Bergembiralah bila dihadapkan pada kondisi demikian, meskipun tidak usah sengaja mencarinya.
Anggaplah segala kesukaran yang kau temui dalam hubunganmu dengan sesama sebagai ujian. Sebilah pedangpun perlu diasah supaya tajam, dan sepotong batu jade juga perlu digosok agar berkilau.

Berlatihlah, kendalikan dan tempa dirimu, disiplinkan, serta tenangkan pikiranmu yang selalu bergerak. Latihlah batinmu agar tetap hening sekalipun berada di tengah lingkungan yang kacau.

Berlatihlah setiap menit, tiap detik, hari demi hari, hingga tahun berganti tahun, terus- menerus tanpa henti. Anggaplah setiap pekerjaan dan tindakan kita sebagai latihan.

Banyak orang terpenjara oleh pandangan keliru dan menaruh egonya sebagai pusat dunia. Mereka yang berada di dekatnya lebih dihargai ketimbang yang berada jauh darinya.

Memang sulit bagi kita untuk melihat diri sendiri. Kita telah terbiasa membuka mata mengawasi orang-orang di keliling, mengkritik dan menilai, lalu berteori panjang-lebar tentang urusan-urusan duniawi, tanpa betul-betul mengetahui bahwa kitapun termasuk di dalamnya. Hanya jika kita dapat melihat “diri” sendiri dan menelitinya seperti kita meneliti orang lain, maka kita dapat membedakan dengan jelas antara teori dengan kenyataan.

Maafkanlah mereka yang menyakitimu. Jangan menjadi orang yang mudah tersinggung.

Jika engkau tidak dapat mempercayai kebaikan orang lain, maka sulit bagimu untuk mencintai ataupun memaafkan kesalahan mereka.

Dengan tidak mempercayai orang lain, engkau telah kehilangan sebagian rasa percaya dirimu. Bila engkau tidak mempercayai seisi dunia ini, rasa percaya dirimu pun akan turut pudar.

Anggaplah celaan sebagai nasehat, dan pujian sebagai peringatan. Pandanglah penolakan sebagai sarana mawas-diri, dan kesalahan sebagai pengalaman. Setiap kritik adalah pelajaran yang berharga.

Mereka mencela saya, mereka tidak mengerti saya, mereka menghina saya, dan saya tetap merasa bergembira. Saya berterima-kasih kepada mereka karena telah membantu latihan saya.

Batin yang bersih dan bening tidak takut menghadapi hinaan, ia tetap tenang dan baik. Tanpa memperdulikan betapa orang lain berlaku jahata, kita bahkan menganggapnya sebagai kesempatan untuk menempa batin sendiri.

Bila menjumpai kesalahan, ubahlah ia hingga menjadi benar. Bila menjumpai kejahatan, ubahlah ia menjadi kebaikan. Bila mendengar gossip tentang dirimu, dengarlah itu sebagai suatu kesempatan untuk berlatih. Jangan biarkan mereka tumbuh liar menjadi rumpun-ilalang kebodohan di dalam batinmu.

Masyarakat bisa tenang hanya jika setiap orang telah melenyapkan keangkuhan, keterikatan pada “diri”, dan kebodohan.

Jangan membuat gossip tentang orang-orang atau kejadian. Karena pada hakikatnya, alam semesta dan segala isinya adalah manifestasi dari Tripitaka.
(Tripitaka = kitab suci umat Buddha yang terdiri atas tiga bagian, yaitu sutra, vinaya dan abhidharma)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: