Oleh: Henry | April 14, 2008

MENYELAM KE DASAR BATIN 3 – Master Cheng Yen

Hatiku Pedih Melihat Penderitaan Itu

Hati yang welas-asih adalah tempat yang teduh dan tenang, ia adalah sumber kegembiraan dan kebahagiaan bagi semua.

Welas-asih berarti simpati. Hati yang welas-asih dapat memaafkan, sabar, penuh kasih dan toleransi. Berkah termulia dalam hidup ini adalah bila kita dapat berbagi maaf dan simpati dengan sesama.

Upaya yang tanpa pamrih disebut “welas-asih agung” yang memiliki nilai tak terbatas. Mengerjakan dan melayani dengan sukacita lebih dari sekedar “senang berdana”.


Kalimat “murah hati berarti membagi kebahagiaan dengan sesama.” Mengajarkan kepada orang kaya untuk memberi dan berdana. Pemberian yang dilakukan dengan dasar welas-asih bersifat membebaskan, membantu si miskin untuk bangkit dari kesusahannya.

Kasih yang murni adalah kebaikan hati bahkan kepada mereka yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kita – kasih yang memberi kebahagiaan dan membebaskan mereka dari rasa takut.

Meskipun kita tidak memiliki hubungan dengan sesama, penderitaan mereka adalah derita kita, dan kesedihan mereka adalah kesedihan kita. “Memang tubuh mereka yang menderita, tapi hatiku tetap merasa sedih. Meski luka itu pada tubuh mereka, rasa pedihnya terasa olehku.” Inilah yang disebut welas-asih yang tak terbatas.

Welas-asih itu wajar, tak pernah berlebihan. Ia tidak menimbulkan kemarahan atau kebencian, pun tidak membeda-bedakan dengan siapa kita berhubungan. Jangan membelenggu kekasihmu dengan emosi, tapi sekuat tenaga untuk memahami dan mengasihi orang yang tidak engkau sukai.

Welas-asih adalah sumber keselamatan, tapi tanpa kearifan, ia tak akan menjadi welas-asih yang agung. Seperti sabda Buddha, “Welas-asih dan kebijaksanaan berjalan seiring.”

Dharma yang agung tumbuh dari kebijaksanaan. Welas-asih sejati berkembang bersama kearifan.

Kasih, kemanusiaan dan moralitas adalah isi ajaran welas-asih Sang Buddha, sedangkan kelembutan, kebajikan, dan persahabatan adalah penerapannya.

Mereka yang menolong sesamanya disebut Bodhisattva. Jika engkau mengisi hari-harimu dengan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama, maka pada hari itu engkau adalah seorang Bodhisattva.
(Bodhisattva = mahkluk agung yang bertekad untuk mencapai pencerahan bagi dirinya sendiri dan bagi semua mahkluk hidup)

Bodhisattva berusaha untuk selalu selaras dengan semua mahkluk, dan untuk itu kita tidak bisa melulu bergantung pada teori, tapi harus mempraktekkannya. Welas-asih dan tekad Bodhisattva adalah teori, sedangkan tindakan menolong sesama adalah praktek. Kita harus mengubah welas-asih yang abstrak itu menjadi tindakan nyata.

Nyatakanlah welas-asihmu dalam tindakan.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: