Oleh: Henry | April 14, 2008

MENYELAM KE DASAR BATIN 2 – Master Cheng Yen

Seperti Rembulan, Cermin dan Air

Latihlah batinmu hingga sebening rembulan : di mana ada air, baying-bayang bulan nampak di sana. Batin juga harus seperti langit : ketika mega-mega merebak tampaklah langit yang bersih.

Tempalah batin dan jasmanimu, hingga ia laksana rembulan yang bercahaya lembut dan indah. Luaskan wawasan batinmu dan nyalakan cahaya kebijaksanaamu. Terangilah keluarga, masyarakat, dan setiap orang yang berhubungan denganmu, seperti cahaya bulan yang sejuk dan menyenangkan.


Pandanglah dan dengarkan alam semesta dan segala isinya, dengan batin yang hening.

Batin ini seperti cermin : meskipun bayangan yang dipantulkan selalu berubah-ubah, permukaan ceriman tetap tidak berubah. Lingkungan sekitar kita berubah, tetapi batin tak pernah berubah.

Apabila batin terus menerus berpaling pada dan mengikuti kondisi-kondisi di luar, seseorang dapat tergoyahkan hanya karena gossip, dan kehilangan kendali dirinya.

Ketika cermin digunakan untuk melihat bayangan suatu benda, cermin dan benda itu harus ditaruh dalam suatu jarak tertentu agar bayangan yang dihasilkannya nampak dengan jelas. Jika jaraknya terlalu dekat atau terlalu jauh, atau cermin itu tertutup debu tebal, maka cermin yang paling bagus pun tidak dapat memantulkan bayangan benda itu dengan jelas.

Hubungan antara manusia dan pikirannya seperti benda dan sebuah cermin. Di satu pihak kita membutuhkan kearifan dan kemampuannya untuk mengenali fakta dan hokum-hukum alam; tapi di lain pihak kita juga perlu mengambil jarak dari pikiran kita sendiri, jika tidak ingin dikuasai olehnya.

Mereka yang lengah akan tercemar oleh pikirannya sendiri, sedangkan yang mengambil jarak akan memperoleh padangan terang.

Batin kita seperti cermin ; ketika di hadapannya ada gunung, nampak bayangan gunung; ada air, nampaklah air. Apabila ada debu tebal di permukaannya, kita jadi tidak mengetahui apa yang ada di hadapan.

Jika kita dapat menjaga batin agar suci dan bersih, maka apapun yang ada di sekitar kita akan selalu nampak indah dan baik.

Batin manusia seperti air, lemah dan lembut nampaknya, tapi mengandung kekuatan besar yang tidak terkira.

Batin juga seperti tanah lapang. Jika ditanami benih unggul, engkau akan mendapatkan hasil panen yang baik.

Jangan takut pada surga dan neraka, karena surga dan neraka diciptakan perbuatan (karma) kita sendiri. Yang harus lebih ditakuti adalah kemerosotan batin.

Pengendalian diri akan menjaga batin agar tidak tercemar oleh pikiran yang buruk. Jika batin bersih, kejahatan tidak akan menghampiri.

Apabila pikiran baik, setiap hari dalam hidupmu akan menjadi hari baik. Jika setiap saat dijalani dengan penuh perhatian, maka setiap waktu, arah dan tempat menjadi penuh makna.

Tekad yang sesuai dengan jalan harus dikembangkan dan diperdalam. Jika tidak, maka penelaahan yang mendalam atas kitab suci dan teori-filsafat hanya akan menghasilkan bayangan bulan di dalam air, bunga di dalam cermin, baayang-bayang semu yang tidak nyata; kosong.

Andaikan setiap jalan menghantar ke kedamaian abadi, orang yang kurang bersemangat, labil, hanya mencari kesenangan, dan pikirannya tidak terpusat, tetap saja tidak akan mencapainya.

Batin ini terombang ambing ke atas dan ke bawah, tenggelam dan terapung tiada henti. Ia “tenggelam” saat kita mebuang-buang waktu dengan percuma, dipenuhi energi-energi negatif seperti kemarahan, kemalasan, gemar tidur, dan enggan melatih kesucian. Ia “terapung” dalam gelombang pikiran-pikiran buruk yang tiada henti. Tanpa melepaskan dua keadaan batin ini, tertutup jalan menuju batin yang hening.

Ketimbang gelisah dan bersedih, gunakanlah potensi bantinmu secara positif.

Penyakit jasmani mudah diobati; tapi penyakit batin sungguh menakutkan. Si sakit tidak dapat merasa tenang ketika berjalan, berdiri, duduk, ataupun berbaring. Sekujur tubuhnya terasa tidak nyaman, sukar baginya untuk memejamkan mata dan tertidur.

Penyakit batin bagi orang kaya dan berkuasa, adalah rasa takut “kehilangan” apa yang mereka miliki; sedangkan bagi orang miskin dan lemah, adalah rasa haus untuk memperoleh “apa yang tidak mereka miliki”. Baik takut kehilangan maupun kehausan untuk memperoleh keduanya sama membuat kita menderita.

Jika engkau tidak terikat pada suatu apapun, maka batinmu tidak akan terbelenggu oleh konsep untung rugi yang menyertainya – dan dengan sendirinya terbebas dari belenggu dan noda. Demikianlah batin orang bijaksana, tujuan dari mereka yang menempuh Jalan.

Bila engkau melihat sesamamu dengan batin Buddha, setiap orang adalah Buddha. Bila kau melihatnya dengan batin Mara, setiap orang adalah Mara.
(Mara = symbol nafsu dan kejahatan)

Batin orang awam membeda-bedakan masa lalu, kini, dan yang akan datang.

Dalam berlatih, orang awam menginginkan hal-hal gaib dan besar, karena itulah batin mereka semakin kacau, mereka hanya mondar mandir di depan pintu gerbang Dharma.

Sesungguhnya mudah saja memperoleh batin yang hening; cukup dengan melenyapkan noda keserakahan.

Batin yang awam terbelenggu, ternoda dan terikat pada banyak hal. Batin yang bersih tanpa noda memungkinkan tumbuhnya benih Kebuddhaan.
(Benih Kebuddhaaan = hakikat batin semua mahkluk)

Dalam gelap orang menyalakan lampu, tapi terang yang sejati ada di dalam batin. Untuk itu engkau tidak perlu menyalakan lampu di depan altar Buddha; terangilah batinmu sendiri.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: