Oleh: Henry | April 13, 2008

Benarkah Teknologi membawa kemerosotan???

Benarkah Teknologi membawa kemerosotan??

Teman-teman, apakah benar, kemajuan teknologi sekarang ini membawa pada kemerosotan??

Dibawah ini adalah artikel penjelasan tentang benarkah teknologi membawa kemerosotan… selamat membaca, mohon diberikan juga komentar2 kamu tentang artikel ini… thx

Oleh: S. Dhammasiri

Dewasa ini kita dapat menyaksikan berbagai kemajuan di bidang teknologi. Karena adanya kemajuan teknologi, sesuatu yang dulu tidak mungkin kita lakukan sekarang menjadi mungkin untuk dilakukan, sesuatu yang susah untuk dikerjakan kini menjadi mudah untuk dikerjakan. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang apakah semua teknologi membawa manfaat dan kesejahteraan bagi umat manusia dan juga bagi makhluk lainnya? Ataukah sebaliknya, membawa dampak pada kemerosotan moral? Jawaban dari setiap orang tentu akan berbeda-beda dalam hal ini.

Pada dasarnya, setiap teknologi, di satu sisi, membawa manfaat dan kesejahteraan bagi umat manusia. Sebagai contohnya, alat-alat transportasi bisa mempermudah perjalanan kita, adanya berbagai sarana komunikasi membuat kita berkomunikasi dengan mudah, mengakses dengan segera apa yang kita butuhkan.

Di pihak lain, kita pun sadar bahwa teknologi juga telah menimbulkan kerugian dan penderitaan baik bagi manusia sendiri maupun bagi makhluk lain. Transportasi yang mempermudah kita dalam perjalanan, menimbulkan polusi udara, menipisnya ozon, dan membuat lingkungan sekitar kita menjadi lebih panas. Berbagai alat komunikasi telah digunakan untuk menyebarkan berita-berita yang berbau pornograpi, isu yang tidak benar, dan segudang berita yang dapat menimbulkan kemerosotan moral. Dengan kata lain, teknologi dapat saja memiliki dampak positif dan juga dampak negatifnya.

Kemajuan Teknologi

Teknologi dari hari ke hari selalu mengalami perkembangan atau boleh dikatakan tidak ada kata berhenti bagi teknologi. Kemajuan ini bisa terjadi, pada hakekatnya, karena didasari oleh rasa ketidakpuasan manusia terhadap kemajuan teknologi yang telah didapatkan selama ini. Andaikata manusia merasa puas dengan dengan kemajuan teknologi selama ini, tidak akan ada riset lagi, tidak ada penemuan baru lagi dan tidak ada kemajuan di bidang teknologi.

Adanya riset dan penelitian, memungkinkan teknologi untuk terus mengalami perkembangan. Berbagai penemuan baru pun banyak bermunculan. Teknologi yang dianggap kuno, ketinggalan zaman, dipandang tidak layak lagi untuk digunakan, dicarikan solusinya agar memiliki kemampuan yang lebih dari kemampuan sebelumnya.

Semangat para pakar teknologi untuk terus melakukan penemuan baru telah membuat teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat dewasa ini. Beberapa kebutuhan manusia akan teknologi pun sekarang sebagian sudah terpenuhi. Bahkan kalau kita lihat film-film animasi kemajuan teknologi sudah melampui batas kenyataan. Kita bisa melihat, dalam film-film tersebut tentunya, bagaimana kehebatan komputer, kecepatan pesawat terbang, kemampuan robot yang sangat elastis dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kalau di antara kita ada yang bertanya “Mungkinkah hal-hal semacam itu akan menjadi kenyataan?” jawabannya adalah sangat mungkin hal semacam itu akan terjadi. Tentu banyak alasan untuk hal ini.

Beberapa dekade yang silam kita masih sulit menikmat berita yang terjadi di belahan dunia lain, kini kita bisa menyaksikan fenomena-fenomena yang terjadi di negara-negara lain secara langsung. Untuk mengirim surat, dibutuhkan beberapa waktu baru surat itu akan sampai. Sekarang, dengan adanya e-mail begitu tanda “send” ditekan surat kita langsung terkirim dan beberapa detik kemudian sudah sampai ke tujuan.

Bagi mereka yang enggan untuk membuka majalah, koran, dan buku, baik untuk sekadar informasi atau bahan referensi, tetap bisa menikmati berita, mendapatkan artikel sesuai keinginan melalui internet. Kita tinggal memasukkan satu atau dua kata sesuai dengan subjek yang kita harapkan, dan sederetan judul artikel akan muncul; kemudian kita tinggal pilih mana yang kita suka.

Itulah gambaran bagaimana kemajuan teknologi saat ini. Tentunya bukan itu saja yang terjadi, kemajuan-kemajuan yang lain masih banyak dan tak mungkin ditulis semua dalam artikel yang sekecil ini. Dari semua itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kemajuan teknologi saat ini sudah cukup pesat dan kemajuan tersebut akan terus mengalami kemajuan lagi bila para ilmuwan dan teknokrat terus melakukan riset untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal.

Pengalaman Penulis

Setiap orang tentunya memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam kaitannya dengan teknologi. Ada yang mendapatkan kebahagiaan, keuntungan, ketenangan dan kemajuan baik di bidang spiritual maupun materi karena adanya teknologi. Karena adanya teknologi, orang dengan mudah melakukan transaksi dalam bisnisnya, banyak orang dapat mendapatkan ajaran-ajaran yang mampu membangun semangat, moralitas, dan meningkatkan kualitas praktik spiritualnya. Tapi tidak sedikit pula orang yang mengalami kehancuran, kebobrokan moral, kerugian dan penderitaan yang tak kunjung habis karena adanya teknologi.

Mudahnya VCD, majalah dan situs-situs porno didapat, telah menimbulkan kemerosotan moral banyak orang. Seperti kasus yang dialami Darsono (16), ia tega memperkosa 2 adik kandungnya sendiri bahkan pernah memaksa ibunya untuk melakukan hubungan seksual gara-gara sering nonton VCD porno (Majalah Nyata, Edisi 1655, IV Maret 2003, hal. 32). Kemudian, seorang istri menjadi menderita sebab suaminya asyik main cyber-sex siang dan malam. Itulah contoh-contoh konkrit dari adanya kemajuan teknologi.

Penulis pun mempunyai pengalaman tersendiri dalam hal ini dan mungkin penulis adalah orang yang mendapatkan keuntungan karena adanya teknologi. Semenjak kecil, penulis hidup di tengah-tengah masyarakat non-Buddhis dan juga dibesarkan dalam keluarga non-Buddhis.

Kenyataan yang harus kami hadapi adalah hidup jauh dari kemajuan teknologi, paling banter hanya televisi dan radio. Televisi bagi kami saat itu bukanlah sahabat yang setia dan mungkin juga bagi banyak orang. Ia menyedot semua konsentrasi kita. Artinya, kalau kita mau nonton harus meninggalkan pekerjaan lainnya. Tapi radio adalah sahabat yang setia bagi siapa pun dan di mana pun berada. Orang bisa mendengarkannya sambil nyupir, atau melakukan pekerjaan lainnya. Praktis dan tidak terlalu repot mengurusnya, itulah sifatnya.

Penulis mengenal agama Buddha bukan dari masyarakat sekitar, bukan dari sekolah juga bukan dari guru, tapi dari radio. Mimbar agama Buddha dua minggu sekali dari RRI Banjarmasin, adalah yang pertama kali membuat penulis berkenalan dengan agama Buddha. Bahkan selama itu penulis pun tidak pernah menyangka kalau di Kalimantan Timur, di mana penulis tinggal, ada agama Buddha. Hingga pada suatu ketika mendengarkan mimbar agama Buddha dari RRI Samarinda tersebut, barulah penulis tahu kalau di Kalimantan Timur juga ada agama Buddha.

Dengan berbekal keberanian, penulis datang ke RRI Samarinda dan bertanya kepada penyiar yang kebetulan penulis kenal saat itu: Di mana alamat pengasuh mimbar agama Buddha. Ia pun menunjukkan alamatnya dengan mudah karena waktu itu penyiar tersebut menyewakan rumahnya kepada pengasuh mimbar agama Buddha RRI Samarinda. Oleh karena itu,dengan teknologilah yang membuat penulis mengenal agama Buddha, dan teknologi pulalah yang menuntun penulis ke vihara.

Sekarang penulis telah menjalani kehidupan sebagai samanera selama beberapa tahun. Semenjak lepas dari Lembaga Pendidikan Samanera di Mendut, penulis berusaha mengembangkan hobi menulis. Selama di Indonesia artikel-artikel yang ditulis, penulis kirimkan lewat surat tapi bila diminta menulis secara mendadak saya dikirim via E-mail. Ketika berada di negeri seberang seperti ini, penulis lebih senang memanfaatkan E-mail untuk mengirimkan artikel-artikel yang ditulis; biaya lebih murah dan begitu kita kirim langsung sampai. Itulah hebatnya kemajuan teknologi saat ini. Kalau dikirim lewat surat akan memakan waktu lebih lama dan akan lebih merepotkan redaksi sebab harus menulis ulang artikel yang dikirim.

Kemudian ini adalah pengalaman yang dialami orang lain yang tidak jauh berbeda dengan yang penulis alami. Andi (sebut saja begitu) adalah anak tunggal. Ayah-ibunya pernah berziarah ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ia tertarik pada Buddhisme lewat film-film bernuansa Buddhis dan juga mimbar agama Buddha di telivisi. Ia dengan sembunyi-sembunyi selalu menyaksikan mimbar agama Buddha bila kedua orangtuanya pergi. Ia pun datang ke vihara dan ketika pertama kali ke vihara kebetulan yang ada saat itu hanya penulis: Ya teman senasib bertemu. Sekarang ia lebih bebas mempelajari agama Buddha karena ia sekarang kuliah di Jakarta sedangkan kedua orangtuanya ada di Sulawesi.

Teknologi dan Agama

Kalau sekadar sekilas membaca pengalaman penulis, tentu pembaca akan setuju untuk berpendapat bahwa teknologi membawa kemajuan moral, keuntungan dan kebahagiaan. Bahkan sekarang banyak tokoh-tokoh agama memanfaatkannya untuk menyebarkan nilai-nilai moral yang menunjang kebahagiaan, kesejahteraan dan kemajuan spiritual. Dalam agama Buddha sendiri, kita bisa menemukan banyak website khusus tentang agama Buddha, radio Buddhis.

Adanya radio dan televisi membuat banyak orang bisa menikmati mimbar ajaran agama Buddha. Sudah barang tentu, orang-orang yang enggan datang ke vihara entah karena perasaan malu atau karena malas bisa mengakses secara langsung ajaran-ajaran agama Buddha baik via radio, televisi ataupun internet. Namun, internet adalah yang memiliki jangkauan paling luas dalam hal ini. Yang menikmatinya pun tidak hanya mereka yang memiliki label “umat Buddha” tapi juga mereka yang belum mengenal sama sekali apa itu Buddhisme bisa mengakses ajaran yang pernah diajarkan oleh Sang Buddha lebih dari 2500 tahun yang silam.

Tidak semua kemajuan teknologi tentunya dapat disetujui oleh semua agama, kita bisa mengambil kasus yang muncul baru-baru ini yaitu kloning. Dengan dibantu oleh teknologi, kini manusia bisa mengkloning manusia maupun binatang. Beberapa agama menolak kloning karena dianggap bertentangan dengan kode etik agama mereka. Agama Buddha sendiri memandang kloning manusia maupun binatang sebagai hal yang
syah-syah saja. Namun, dalam pandangan agama Buddha hanya fisik yang bisa dikloning sementara pikiran tak mungkin bisa dikloning. Betapa pun hebatnya manusia tak mungkin ia bisa melakukan hal itu.

Di satu sisi teknologi telah membantu tokoh-tokoh agama untuk menyebarkan ajaran nilai-nilai moral. Namun, di pihak lain tokoh-tokoh agama juga menghadapi tantangan yang cukup berat dengan adanya kemajuan teknologi. Alasannya adalah banyak orang karena alasan tuntutan konsumen dan yang lebih pasti adalah demi mengeruk keuntungan pribadi serta memperkaya diri, telah menyebarkan situs-situs berbau
pornografi.

Pada akhirnya situs-situs semacam itu memancing timbulnya nafsu seksual yang lebih hebat. Yang lebih parah lagi bagi mereka tidak mampu mengendalikan diri, memaksa orang lain untuk melayani nafsu seksualnya. Dengan kata lain banyak orang yang mengalami kemerosotan moral, mengabaikan norma-norma lingkungan karena adanya kemajuan teknologi.

Mengingat banyaknya orang yang memanfaatkan teknologi untuk kepentingan pribadi, merasa puas melihat orang lain menderita karena ulahnya, sudah selayaknya kita meningkatkan nilai-nilai moral yang kita miliki. Juga merupakan hal yang penting untuk membangun moralitas masyarakat di lingkungan sekitar kita.

Bila kita merasa belum mampu untuk membantu orang lain untuk meningkatkan praktik moral spiritualnya, adalah hal yang baik bila kita bisa menjaga moral pribadi kita. Bagi mereka yang merasa tidak mampu mengajarkan nilai-nilai moral kepada orang lain, tapi mampu menjaga praktik moralnya sendiri, ia telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perkembangan moral masyarakat. Sang Buddha dengan jelas mengatakan:

“Ia yang melindungi diri sendiri berarti melindungi orang lain,

ia yang melindungi orang lain berarti melindungi diri sendiri” (S.V. 169) , 169).

Dalam konteks ini, kita dikatakan telah memberikan perlindungan, rasa aman, ketenangan, dan ketentraman kepada orang lain jika kita mampu melindungi diri sendiri dengan cara tidak melakukan kejahatan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Penggunaan teknologi, menurut pandangan agama Buddha, adalah sah-sah saja sepanjang kita bisa menggunakannya dengan dilandasi oleh moral. Tanpa dilandasi moral teknologi justru akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungan sekitarnya.

Moral adalah landasan yang utama demi terciptanya kesejahteraan di lingkungan keluarga, masyarakat maupun dalam pencapaian spiritual. “Tergantung pada tanah … biji menjadi tumbuh dan berkembang; demikian pula pelaksanaan Jalan Mulia Berunsur Delapan tergantung pada kemurnian sîla” (S. V, 30). Itulah nasehat Sang Buddha. Nasehat ini menunjukkan bahwa moralitas adalah pondasi dalam menjalani hidup ini. Karenanya, kemajuan teknologi akan memberikan manfaat yang maksimal kalau hal itu dijalankan bersama-sama dengan moralitas yang kokoh.

Bila tanpa dilandasi dengan moral yang kokoh dan karena alasan tuntutan konsumen, semua majalah, atau media massa yang kini berorientasi pada pengembangan nilai-nilai moral, dapat berbalik arah dalam fungsinya. Ia dapat menjadi majalah atau media massa yang menyebabkan merosotnya nilai-nilai moral, mengabaikan norma-norma masyarakat.

Pengaruh Pikiran

Agama Buddha menekankan pentingnya pikiran. Pikiran mempunyai pengaruh yang pasti besar dalam menentukan kebahagiaan maupun penderitaan bagi seseorang. Dalam Dhammapada dikatakan, “Pikiran adalah pendahulu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbuat dan berucap dilandasi dengan pikiran jahat, ia akan mendapatkan penderitaan … bila ia berbuat dan berucap dengan pikiran yang murni, kebahagiaan akan mengikutinya” (Dhp. 1, 2).

Teknologi adalah kreasi pikiran manusia dan tidak lebih dari itu. Oleh sebab itu, apakah teknologi akan membawa kita ke jurang kemerosotan dekadensi moral atau pada kemajuan moral tergantung pada pikiran kita.

Dunia, oh para bhikkhu, dipimpin oleh citta, diarahkan oleh citta.
Dunia ini di bawah pengaruhnya” (A. II, 177).

Pernyataan Sang Buddha ini membuat kita semakin memahami betapa pentingnya pikiran. Pikiranlah yang menjadi pengendali dunia ini. Hanya sayangnya, sering kali pkkiran menjadi penguasa yang tak terkendali.

Jangan Biarkan Pikiran Menjadi Penguasa Yang Tak Terkendali

Meskipun agama Buddha memandang pentingnya pengaruh pikiran, kita pun harus ingat bahwa pikiran bukanlah segala-galanya. Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi mengapa kita bisa menjadi menderita atau pun merasakan kebahagiaan, mengapa kita menciptakan ini dan itu, mengapa ini bisa tercipta dan sebagainya. Konsep paticcasamuppada, “Dengan adanya ini timbullah itu, dengan lenyapnya ini lenyaplah itu”, adalah bukti bahwa banyak faktor yang menentukan terjadinya sesuatu.

Teknologi sebagai sarana

Sampai sejauh ini penulis belum pernah mendengar ada orang yang mencapai kesucian karena orang tersebut telah banyak menggunakan teknologi. Bahkan lebih dari itu, hingga sejauh ini, penulis juga belum pernah mendengar atau menemukan referensi ada seorang sarjana yang mencapai kesucian karena kesarjanaannya. Tetapi Anda janganlah tergesa-gesa mengambil kesimpulan bahwa teknologi tidak ada gunanya, tidak memberikan manfaat dan kesejahteraan.

Banyak orang yang merasa bahagia, bisa tidur dengan nyenyak, bekerja dengan aman, dan mengerjakan pekerjaan lebih cepat karena adanya teknologi. Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa di pihak lain teknologi dapat membuat usia manusia menjadi lebih pendek akibat kerusakan lingkungan, mendapatkan lebih banyak kesibukan, dan penderitaan pun semakin menumpuk. Dengan demikian, kita bisa mengilustrasikan teknologi seperti sebilah pisau. Pisau akan memberikan manfaat, kesejahteraan, keindahan, ketenangan dan kesejahteraan jika digunakan secara benar. Bila digunakan secara salah, sudah pasti penderitaan dan kesengsaraan adalah yang akan didapat.

Dalam Mangala Sutta, Sang Buddha menyatakan bahwa ‘memiliki pengetahuan dan keterampilan adalah suatu berkah’. Teknologi yang merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan dan keterampilan atau keahlian, tentu diharapkan dapat dijadikan sarana untuk maju, mendapatkan keuntungan spiritual, kedamaian dan kesejahteraan dalam bermasyarakat. Di sisi lain, juga diharapkan agar teknologi yang digunakan tidak sampai menimbulkan penderitaan, memperpanjang proses samsara.

Suatu ketika Sang Buddha mengatakan, hendaknya setelah menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai, kita menambatkan dan meninggalkan rakit tersebut di pinggir sungai agar dapat digunakan orang lain yang ingin menyeberangi sungai tersebut. Menurut Sang Buddha, hanyalah orang-orang yang bodoh yang akan membawa rakit tersebut ke mana pun ia pergi karena menganggap rakit tersebut telah berjasa dan memberikan manfaat kepadanya (M. I, 134-135).

Sekarang sudah selayaknya kita menggunakan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan nilai-nilai moral, membantu mereka yang belum mendapatkan kebahagiaan untuk mendapatkannya. Kita juga seharusnya merasa terpanggil untuk melakukan perbaikan moral yang akhir-akhir ini sangat memprihatinkan kondisinya. Sebagai umat Buddha, tentunya kita bisa lebih mudah membabarkan ajaran Sang Buddha demi kesejahteraan, kebahagiaan dan manfaat bagi orang banyak dan bukan karena adanya selfish-expectation , ingin membuddhiskan masyarakat.

Pembabaran Dhamma melalui teknologi adalah suatu wujud lain dari pengulangan Dhamma. Selalu mengulang Dhamma adalah sangat penting artinya. Y.M. Mahâkassapa, seorang Arahat yang sangat berjasa dalam Sangha Samaya Pertama, dan juga dikenal sebagai orang yang paling tegas dalam mempraktikkan vinaya di masa kehidupan Sang Buddha mengatakan:

“Marilah kita mengulang Dhamma dan Vinaya (moralitas) sebelum apa yang bukan Dhamma berkembang dan Dhamma menjadi lenyap; sebelum apa yang bertentangan dengan nilai-nilai moral berkembang dan nilai-nilai moral terlupakan; sebelum mereka yang membicarakan bukan Dhamma menjadi kuat dan berkuasa dan mereka yang membicarakan Dhamma menjadi lemah dan tak berdaya; sebelum mereka yang membicarakan apa yang bertentangan dengan nilai-nilai moral menjadi kuat dan berkuasa sedangkan mereka yang membicarakan nilai-nilai moral menjadi tak berdaya” (terjemahan Cullavagga, hal. 294).

Kesimpulan

Teknologi berkembang dengan pesat. Kemajuannya sesungguhnya tergantung pada manusia itu sendiri. Seandainya manusia enggan untuk mengembangkan teknologi, tak mungkin akan ada kemajuan teknologi. Dengan demikian, kesempatan untuk memperoleh kemudahan dan kesejahteraan yang dapat dicapai dengan bantuan teknologi, yang dimanfaatkan dengan cara yang benar, akan berhenti sampai di sini. Di pihak lain, sangat disayangkan, banyak orang yang memanfaatkannya untuk kepentingan- kepentingan pribadi yang sifatnya merugikan banyak orang, menimbulkan kemerosotan nilai-nilai moral, terganggunya sistem keamanan lingkungan, dan masa depan menjadi suram.

Untuk menanggulangi dampak negatif dari penggunaan teknologi dan sekaligus sebagai ajakan terakhir, kita sudah sewajarnya menggunakan teknologi untuk kepentingan perbaikan moral, dan membuat teknologi memberikan dampak negatif yang seminimal mungkin bahkan bila mungkin sama sekali tidak ada.

Dengan adanya fakta banyak orang mendapatkan kemajuan moral spiritual, peningkatan motivasi di satu sisi dan di sisi lain banyak orang yang mengalami kesengsaraan, kemerosotan moral, menunjukkan bahwa teknologi berada dalam posisi yang netral. Apakah ia akan memberikan kebahagiaan dan manfaat atau memberikan dampak negatif tergantung yang menggunakannya. Selama pemanfaatannya sesuai Dhamma, niscaya akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat manusia.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: