Oleh: Henry | April 10, 2008

TUHAN TIDAK BERMAIN DADU

TUHAN TIDAK BERMAIN DADU

“Dengan upaya, kesungguhan, disiplin dan pengendalian diri, orang bijaksana [Arahat] membuat pulau bagi dirinya yang tidak dapat tenggelam oleh banjir. [Pulau yang melindunginya dari banjir kesenangan indria, pandangan salah, keinginan terlahir kembali dan kebodohan batin]”
(Sutta Pitaka, Khuddaka Nikaya: Dhammapada, 25)

Ada 3 definisi umum mengenai Tuhan:

1. Tuhan Personal
• Tuhan diwujudkan sebagai makhluk adi kuasa.
• Tuhan menciptakan manusia.
• Manusia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
• Relasi Tuhan dengan manusia melalui doa.
• Manusia mengikuti kehendak Tuhan.
• Termasuk kategori ini: agama Islam, Kristen, Yahudi.

2. Tuhan Semi Personal
• Alam semesta merupakan simbol Tuhan, yang seolah-olah dapat merasa dan memiliki sifat-sifat seperti manusia.
• Para Dewa dan Para Nabi sudah bersatu dan selaras dengan alam semesta, sehingga kita patut memuja dan menghormatinya.
• Relasi Tuhan dengan manusia melalui ritual keagamaan.
• Termasuk kategori ini: agama Hindu, Tao, Khonghucu, penganut-penganut kepercayaan, Buddha (tradisional).

3. Tuhan Impersonal
• Tuhan tidak dapat digambarkan / dipikirkan / dibayangkan, dalam bentuk apapun.
• Tuhan tidak terkatakan.
• Tuhan bukan zat hidup yang dapat berpikir, berasa, berucap, mendengar atau mengindera.
• Tuhan sebagai tujuan tertinggi (kesempurnaan).
• Termasuk kategori ini: agama Buddha.

Definisi khusus tentang Tuhan:

1. Agama Islam
• Tuhan Maha Esa menciptakan alam semesta beserta isinya.

• Manusia wajib bertaqwa kepada Tuhan.

2. Agama Kristen
• Tuhan Tritunggal (Bapa, Putra, dan Roh Kudus).

• Tuhan berharap manusia percaya pada-Nya melalui Kristus (Yesus).

3. Agama Yahudi
• Tuhan sebagai pelindung dan penyelamat manusia.

• Tuhan sebagai penguasa dan penakluk alam semesta.

4. Agama Hindu
• Tuhan dalam ujud Wisnu, Brahma dan Siwa; sifat alam semesta yang mencipta, memelihara dan memusnahkan.

• Tujuan manusia adalah bersatu dengan Tuhan.

5. Agama Tao
• Adanya Tao yang mengelola jagad raya beserta isinya.

• Manusia hidup harus selaras dengan Tao.

6. Agama Khonghucu
• Thien (Para Dewa, Nabi, Leluhur) wajib kita hormati dan teladani.

• Memuja Thien dan menempatkan diri secara benar di tengah-tengah hidup bermasyarakat dengan melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya.

7. Agama Buddha
• Tuhan sebagai tujuan hidup tertinggi.

• Tuhan hanya dapat dipahami dengan merealisasikan Nibbana (Nirwana).

Bagi seorang Buddhis:

1. Tuhan (Personal) tidak menciptakan alam semesta beserta isinya. Hal-hal tersebut di luar jangkauan pikiran manusia. Ada proses / siklus yang mengatur: muncul-eksistensi-lenyap-muncul-dst, sehingga tidak dapat ditentukan sebab pertama.

2. Manusia tidak bergantung kepada Tuhan (Personal). Ada hukum karma yang mengatur sebab-akibat perbuatan manusia. Dalam definisi Buddhis, segala sesuatu terjadi karena kejadian sebelumnya (sebab-musabab), tidak ada yang tercipta / terjadi dengan sendirinya.

3. Tuhan tidak mengatur / berkuasa atas manusia. Karena, agama Buddha menganut konsep Tuhan yang impersonal, maka agama Buddha tidak berbicara mengenai perintah Tuhan, larangan Tuhan, janji-janji Tuhan, dst. Setiap manusia bergantung sepenuhnya kepada diri sendiri, dan bertanggung jawab sepenuhnya atas segala yang dikerjakannya.

4. Tuhan adalah Yang Mutlak dan merupakan tujuan tertinggi. Umat Buddha tidak memandang Tuhan sebagai relasi (media curhat), yang terkoneksi melalui doa. Tetapi, umat Buddha melihat Tuhan sebagai sesuatu yang dapat direalisasikan dan dipahami melalui latihan-latihan yang menuju pencapaian Nibbana (Nirwana). Dengan tercapainya Nibbana, manusia dapat menyadari Yang Mutlak sepenuhnya.

5. Tujuan utama seorang Buddhis bukanlah mati masuk surga (di sisi Tuhan). Bagi seorang Buddhis, kehidupan kita telah mengalami berulang-ulang kelahiran. Sehingga, tujuannya adalah pembebasan dari kehidupan yang berulang-ulang dan menjemukan ini, yaitu Nibbana. Karena dalam pengertian Buddhis, surga adalah alam kebahagiaan yang sementara dan tidak kekal. Kehidupan di surga memang sangat lama sehingga timbul pandangan keliru yang menganggap surga kekal abadi.

6. Tuhan tidak bermain dadu. Tuhan tidak mencobai atau menguji manusia. Tuhan tidak bermain-main atau bereksperimen dengan ciptaan-Nya. Jika Tuhan sudah mengetahui segala yang akan terjadi, karena sifat ke-Maha Tahu-annya, apa tujuan Ia mencobai manusia? Bukankah Ia sudah tahu hasilnya sejak semula? Tuhan tidaklah seperti ilmuwan yang sedang melakukan eksperimen.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: