Oleh: Henry | April 10, 2008

Awal Kehidupan Di Muka Bumi

Awal Kehidupan Di Muka Bumi

Sudah sejak jaman dahulu kala, manusia telah berusaha untuk mengetahui asal usul nya. Rasa ingin tahu inilah yang kemudian mendorong mereka untuk menciptakan aneka mitos mengenai penciptaan alam semesta ini. Pada umum nya aneka mitos mengenai penciptaan alam semesta di awali dengan terciptanya suatu keluarga dewa-dewa yang di sebut pantheon. Sebagai contoh adalah mitos Babilonia kuno, yang mengatakan bahwa dewa-dewa yang paling awal adalah Absu & Tiamat yang merupakan dewa air tawar dan dewa air asin. Dari perkawinan mereka lahir lah dewa-dewa yang lain seperti Ea, Enlil dan lain sebagainya. Kemudian terjadi perselisihan dan peperangan antaraa Absu & Tiamat melawan anak-anak nya. Absu kemudian berhasil di bunuh sehingga tinggal Tiamat yang masih hidup. Kemudian Tiamat menciptakan sepasukan monster untuk mengalahkan pasukan para dewa yang merupakan anak-anak nya. Pasukan para dewa yang di pimpin marduk pada akhirnya berhasil mengalahkan dan membunuh Tiamat. Selanjut nya Marduk menjadi dewa yang paling berkuasa pada pantheon Babilonia kuno. Ia kemudian menciptakan dunia ini beserta manusia dan hewan untuk melayaninya.

Demikianlah yang dilakukan manusia pada jaman dahulu. Untuk memuaskan rasa ingin tahu nya mereka mengarang aneka dongeng. Sayang sekali bahwa ternyata tidak ada satu pun dongeng tersebut yang benar.

Para ilmuwan dewasa ini telah menemukan bahwa kehidupan yang pertama kali di muka Bumi berasal dari air. Menurut sains, air juga merupakan unsur yang sangat penting bagi terbentuknya kehidupan.

Baru pada tahun 1657, Anthonie van Leeuwenhoek , penemu mikroskop, menemukan makhluk yang sangat kecil yang hidup pada air hujan. Makhluk yang pertama kali muncul di air tersebut adalah makhluk hidup sederhana bersel satu yang di sebut cyanobacteria, yang kemudian berkembang biak dengan cara membelah diri. Salah satuc ciri makhluk bersel satu ini adalah belum memiliki jenis kelamin (aseksual)

Secara mengejutkan, prinsip yang sangat dekat dengan hal tersebut juga bisa di temukan dalam ajaran Buddha yakni pada Aganna Sutta yang merupakan Sutta ke 27 dari Digha Nikaya :

“Pada waktu itu semuanya merupakan suatu dunia yang terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun mauan pun musim-musim belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. makhluk-makhluk hanya di kenal sebagai makhluk-makhluk saja….”

Sang Buddha telah mengatakan bahwa kehidupan berawal dari air. Hal inidi nyatakan dengan kalimat “suatu dunia yang terdiri dari air”. Pernyataan ini tidak bertentangan dengan sains yang mengatakan bahwa bumi pada awal nya berbentuk cair.

Pada saat bumi terbentuk, masih terdapat kabut yang di sebabkan oleh proses pendinginan Bumi. Oleh karena adanya kabut tebal tersebut, maka matahari dan bintang belum tampak, seperti di sebutkan dalam sutta ini, Jelas sekali bahwa Sutta ini mengatakan ” Tidak ada matahari yang tampak, tidak ada bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi yang kelihatan”. Kalimat ini tidak mengatakan bahwa matahari dan bulan tidak ada, melainkan tidak terlihat. Ini berarti bahwa sebenarnya matahari dan bintang-bintang sudah ada namun belum tampak. Hal ini tidak bertentangan dengan sains yang mengatakan bahwa matahari lebih tua daripada bumi.

Agama Buddha masih membedakan antara evolusi pembentukan Bumi dan lahir nya alam semesta. Menurut Buddhisme, alam semesta jauh lebih tua daripada usia bumi. Untuk ini, kita tidak akan membahas nya karena di perlukan konsep dan istilah buddhisme yang lebih dalam.
Yang perlu di ketahui adalah bahwa dalam beberapa sutra seperti Sutra Suranggama, di jelaskan secara terperinci mengenai proses kelahiran tujuh unsur dunia yakni unsur tanah, air, api, angin, kekosongan relatif, persepsi dan kesadaran serta muncul nya dunia-dunia dan para makhluk hidup di alam semesta jaun sebelum matahari dan Bumi terbentuk.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: